Berkebun Paprika di depan rumah

menanam-pprika-di-depan-rumah

Manusia memang tidak pernah puas. Sudah punya sepetak taman minimalis depan rumah, masih mau taman belakang. Sudah ada taman belakang, mau tambah lagi space di kanopi untuk naruh pot pot bunga. Sudah ada teras patio garden dengan pot pot bunga, masih mau berkebun sayur lagi yang entah space nya dari mana lagi. Hadeeeeuh.

Suami udah wanti-wanti, awas jangan nambah beli pot bunga lagi, entar bisa bisa naro di kamar tidur. Tapi tetep aja keasyikan berkebun, sampai akhirnya lahan depan diparo dua, taman landscape dan kebun sayur..hehehehe.

Hobi sayur mayur juga sebenernya gak sengaja karena awalnya kami suka makan beragam masakan berbahan paprika. Mulai dari makanan laut, sapi lada hitam, tumis sayur oseng-oseng, sampai pizza-pizza-an. Jadi kesini nya makin lama kian mahal paprilka di lotte mart. Dan setelah masak2 itu benihnya aku semai di pot-pot kecil. Dan jadilah akhirnya tanaman raksasa yang subur dan berbuah banyak.

Dari tanaman yang kecil rapuh itu aku pindahin ke pot yang makin besar sampai aku pindahin ke pot raksasa. Karna bingung naro nya dimana, aku pindahin ke tempat dudukan tong sampah, di pekarangan pojok paling depan. Selain tempatnya yang pojok tidak menutupi hamparan landscape depan, lokasi tersebut juga banjir sinar matahari yang mana bagus buat pertumbuhan cabe-cabean.

Awalnya aku cuman kasih pupuk tahi kambing aja dan ditanam di tanah merah yang gembur. Tapi lama kelamaan aku penasaran bagaimana cara menumbuhkan paprika tanpa harus banyak pupuk kandang. Mulailah aku browsing dan menemukan cara agar tanaman tumbuh besar dengan pupuk cair atau mol.

Mol adalah mikroorganisme lokal yang terkandung dalam cairan pupuk berisi bakteri baik yang berfungsi menguraikan unsur hara di dalam media tanam agar mudah diserap oleh tanaman. Nanti rencananya mau saya bikin artikel khusus tentang cara membuat larutan mol ini yang prosesnya cukup menantang.

Tanaman paprika yang aku tanam ini ternyata termasuk bibit yang bagus karena tahan terhadap hama. Setelah rutin penyiraman pagi dan petang, dan rutin pemberian pupuk cair setiap 10 hari sekali, tanaman paprika ku tumbuh besar hingga hampir dua meter. Batangnya pun main kokoh tapi tetap saja aku antisipasi dengan memberikan tiang penyangga agar tanaman tidak jatuh kena angin dan badai. Kebetulan memanfaatkan limbah bangunan, aku menemukan besi yang cocok untuk menyangganya.

Awalnya aku seneng banget dengan bunga-bunga dan bakal buah yang banyak bermekaran di sana sini. Tapi makin hari aku menyaksikan gugurnya bunga-bunga itu dan menjadi rontok ke tanah dengan sia-sia. Hiks.. mulai lah aku sibuk mencari tahu sumber penyakit rontok bunga ini. Dari berbagai info googling aku nemu beberapa penyebab yang potensial. Tapi setelah meneliti tanah dan asupannya, keliatannya nggak mungkin nih kekurangan Nitrogen.

Ternyata main suspect nya adalah kutu apid yang kecil kecil pada daun dan bunga dan disukai oleh semut. Nah ini dia gembongnya akhirnya aku caritau pestisida organic yang ramah lingkungan. Dari sekian banyak pestisida organic, aku putuskan membuat pestisida dari air sabun dan daun papaya. Daun papaya beberapa lembar di blender dan disaring ampasnya. Larutannya dicampur dengan air sabun dan dimasukkan ke botol semprotan.

Hama yang mengganggu terkadang nggak kelihatan karna sembunyi dibalik daun daun muda. Tapi jika disemprot rutin beberapa hari sekali  biasanya hama enggan datang.

cara-menanam-paprika-di-dalam-pot

Untuk nutrisi tambahan bagi tanaman paprika, aku suka nambahin pupuk daun kering. Kebetulan rumahku sering dapat kiriman daun kering dari pepohonan tetangga. Dari pada menumpuk aku potong kecil kecil dan masukkan ke dalam pot paprika. Lumayan menambah unsur unsur organicnya.

Agar tanahnya bagus bagi pertumbuhan akar, sesekali aq menggemburkan tanah dengan membajak pakai garpu taman. Hal ini supaya tanah tidak memadat dan membentuk rongga rongga udara agar akar bernapas. Dari beberapa  tanaman paprika ini, aku sudah menghasilkan empat pot besar tanaman yang sudah dipanen buahnya beberapa kali.

Bahkan buahnya sebagian ada yang aku masak dengan daging ala yoshinoya, hehe. Oiya, kabar sedih, baru kemarin aku kecolongan buah paprika yang baru aja merah merekah didepan rumah. Mmmmm,. Mungkin anak-anak ada yang gemes liatinnya.., mudah-mudahan bukan emaknya yaa, apalagi bapaknya.

Mungkin mereka gak tau perjuangan kita nanemnya udah pake peres keringet dipantengin perkembangannya tiap hari. Sampai udah berbuah pun sebenernya kita sayang banget metiknya, karna pengen nikmatin rona-rona merahnya sbagai hiasan depan rumah. Makanya sempet kecewa mendalam kemarin tapi ya sudahlah akhirnya diiklasin, barangkali dia pengen tapi gak bisa beli. Tetap happy ending aja karena bakal bunga nya makin banyak yang tumbuh mekar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *